Pasar modal Indonesia tidak bisa dilepaskan dari peran konglomerat. Mereka adalah kelompok usaha besar yang mengendalikan banyak perusahaan lintas sektor—mulai dari perbankan, energi, properti, hingga teknologi. Memahami siapa saja konglomerat Indonesia dan saham-saham yang berada di bawah kendali mereka sangat penting bagi investor, karena pergerakan satu saham sering kali berkaitan dengan strategi grup secara keseluruhan.
Artikel ini membahas konglomerat besar di Indonesia beserta daftar saham-sahamnya di BEI, lengkap dengan karakteristik bisnis dan insight investasi.
1. Grup Salim (Anthony Salim)
Grup Salim merupakan salah satu konglomerat tertua di Indonesia dengan kekuatan utama di sektor makanan, consumer goods, dan agribisnis.
Saham-saham Grup Salim di BEI:
- INDF – Indofood Sukses Makmur (holding food & consumer)
- ICBP – Indofood CBP Sukses Makmur (produk konsumen / FMCG)
- SIMM – Salim Ivomas Pratama (perkebunan sawit & agribisnis)
- LSIP – PP London Sumatra Indonesia (perkebunan)
Ciri khas grup: defensif, stabil, tahan krisis.
2. Grup Djarum (Keluarga Hartono)
Keluarga Hartono dikenal sebagai pemilik Djarum dan pengendali bank terbesar di Indonesia dengan fokus pada perbankan dan consumer exposure.
Saham-saham Grup Djarum di BEI:
- BBCA – Bank Central Asia (perbankan)
- BMTR – Global Mediacom (media & penyiaran – afiliasi)
- MDIA – Surya Citra Media (media televisi & digital – afiliasi)
Ciri khas grup: fundamental kuat, konservatif.
3. Grup Astra (Jardine Matheson & Keluarga Tjahjadi)
Astra adalah konglomerasi raksasa dengan portofolio bisnis yang sangat terdiversifikasi.
Saham-saham Grup Astra di BEI:
- ASII – Astra International (otomotif, jasa keuangan, infrastruktur)
- UNTR – United Tractors (alat berat, tambang, energi)
- AALI – Astra Agro Lestari (perkebunan sawit)
Ciri khas grup: siklikal namun berkualitas tinggi.
4. Grup Sinarmas (Keluarga Widjaja)
Sinarmas memiliki kerajaan bisnis besar di sektor pulp & paper, energi, keuangan, dan properti.
Saham-saham Grup Sinarmas di BEI:
- INKP – Indah Kiat Pulp & Paper (kertas & kemasan)
- TKIM – Pabrik Kertas Tjiwi Kimia (kertas)
- DSSA – Dian Swastatika Sentosa (energi & infrastruktur)
- BSIM – Bank Sinarmas (perbankan)
- SMMA – Sinarmas Multiartha (jasa keuangan & asuransi)
Saham afiliasi Sinarmas di BEI:
- MINA – Sanurhasta Mitra (properti & hospitality)
- SINI – Singaraja Putra (properti)
Ciri khas grup: agresif, leverage tinggi.
5. Grup Lippo (Keluarga Riady)
Lippo dikenal luas di sektor properti, kesehatan, dan ritel.
Saham-saham Grup Lippo di BEI:
- LPKR – Lippo Karawaci (properti & township)
- SILO – Siloam International Hospitals (rumah sakit)
- MLPL – Multipolar (holding & teknologi)
- MPPA – Matahari Putra Prima (ritel modern)
- BBHI – Allo Bank Indonesia (bank digital – afiliasi ekosistem CT–Emtek)
Ciri khas grup: turnaround, volatil.
6. Grup CT Corp (Chairul Tanjung)
CT Corp merupakan konglomerasi besar dengan fokus pada perbankan, media, ritel, dan gaya hidup.
Saham-saham Grup CT Corp di BEI:
- MEGA – Bank Mega (perbankan)
- BMTR – Global Mediacom (media & penyiaran)
- MDIA – Surya Citra Media (televisi & konten digital)
- BBHI – Allo Bank Indonesia (bank digital – afiliasi ekosistem CT–Emtek)
Ciri khas grup: kuat di konsumsi domestik & jaringan ekosistem ritel.
7. Grup Bakrie (Keluarga Bakrie)
Grup Bakrie merupakan konglomerat lama di Indonesia dengan fokus utama pada energi, tambang, mineral, dan media. Grup ini dikenal memiliki saham-saham berisiko tinggi dengan volatilitas besar.
Saham-saham Grup Bakrie di BEI:
- BNBR – Bakrie & Brothers (holding investasi & industri)
- BUMI – Bumi Resources (tambang batu bara)
- BRMS – Bumi Resources Minerals (emas & mineral tambang)
- ENRG – Energi Mega Persada (migas / oil & gas)
- BUVA – Bukit Uluwatu Villa (properti & hospitality / hotel & resort)
- DEWA – Darma Henwa (jasa kontraktor tambang)
- VIVA – Viva Media Asia (media & konten digital)
Catatan: BRMS secara resmi adalah bagian dari Grup Bakrie, meskipun memiliki afiliasi strategis dengan investor lain.
Ciri khas grup: spekulatif, berbasis komoditas, sensitif sentimen global.
8. Grup Adaro (Garibaldi Thohir & Boy Thohir)
Grup Adaro berkembang dari perusahaan batu bara menjadi grup energi terintegrasi.
Saham-saham Grup Adaro di BEI:
- ADRO – Adaro Energy Indonesia (energi & batu bara)
- ADMR – Adaro Minerals Indonesia (aluminium & mineral)
- AADI – Adaro Andalan Indonesia (logistik & energi pendukung)
Ciri khas grup: cashflow kuat.
9. Grup Emtek (Elang Mahkota Teknologi)
Grup Emtek adalah konglomerat modern dengan fokus pada media, teknologi digital, kesehatan, dan perbankan digital.
Saham-saham Grup Emtek di BEI:
- EMTK – Elang Mahkota Teknologi (holding media & teknologi)
- SCMA – Surya Citra Media (televisi & konten digital)
- HEAL – Medikaloka Hermina (rumah sakit)
- BBHI – Allo Bank Indonesia (bank digital – afiliasi strategis)
Ciri khas grup: digital ecosystem, growth oriented.
10. Grup Barito Pacific (Prajogo Pangestu)
Prajogo Pangestu adalah salah satu konglomerat paling berpengaruh di pasar modal Indonesia dengan fokus pada petrokimia, energi, dan renewable energy.
Saham-saham Grup Barito Pacific di BEI:
- BRPT – Barito Pacific (holding petrokimia & energi)
- TPIA – Chandra Asri Pacific (petrokimia & bahan kimia dasar)
- BREN – Barito Renewables Energy (energi terbarukan – panas bumi & listrik hijau)
- CUAN – Petrindo Jaya Kreasi (tambang batu bara & energi)
Ciri khas grup: market mover, kapitalisasi besar, favorit institusi.
11. Grup Agung Sedayu (Sugianto Kusuma / Aguan)
Grup Agung Sedayu dikenal sebagai pengembang properti premium, kawasan terpadu, dan infrastruktur strategis, termasuk proyek-proyek berskala besar di wilayah Jabodetabek.
Saham-saham Grup Agung Sedayu di BEI:
- PANI – Pantai Indah Kapuk Dua (properti & township)
- CBDK – Bangun Kosambi Sukses (properti & kawasan komersial)
Ciri khas grup: properti premium, landbank besar, proyek jangka panjang.
12. Basis Utama Group (Happy Hapsoro)
Happy Hapsoro dikenal sebagai investor strategis dengan eksposur kuat di energi, pertambangan, dan komoditas, serta sering terlibat dalam restrukturisasi dan akuisisi perusahaan publik.
Saham-saham terafiliasi dengan Happy Hapsoro di BEI:
- RAJA – Rukun Raharja (energi & infrastruktur gas – afiliasi strategis)
- RATU – Raharja Energi Cepu (energi – afiliasi)
- ELSA – Elnusa (jasa energi & oil services – afiliasi historis)
- MINA – Sanurhasta Mitra (properti & hospitality)
- SINI – Singaraja Putra (properti)
Ciri khas grup: oportunistik, tematik energi, sensitif sentimen harga komoditas.
13. Grup Rajawali (Peter Sondakh)
Rajawali Group bergerak di sektor energi, infrastruktur, agribisnis, dan hospitality.
Saham-saham Grup Rajawali di BEI:
- RAJA – Rukun Raharja (energi – gas & infrastruktur – afiliasi)
Ciri khas grup: fundamental relatif stabil, eksposur energi domestik.
14. Grup MNC (Hary Tanoesoedibjo)
MNC Group berfokus pada media, hiburan, properti, dan energi.
Saham-saham Grup MNC di BEI:
- BHIT – MNC Investama (holding)
- BMTR – Global Mediacom (media & penyiaran)
- MNCN – Media Nusantara Citra (televisi & konten)
- RATU – Raharja Energi Cepu (energi – afiliasi)
Kenapa Investor Perlu Memahami Konglomerat?
- Pergerakan saham saling berkaitan dalam satu grup
- Aksi korporasi terstruktur (right issue, spin-off, merger)
- Manajemen dan tata kelola biasanya seragam dalam satu grup
- Strategi bandar & institusi sering berbasis grup
Saham Konglomerat Indonesia yang Masuk MSCI
Keberadaan saham dalam indeks MSCI (MSCI Indonesia / MSCI Emerging Markets) sangat penting karena menjadi acuan dana asing pasif dan institusi global.
Berikut contoh saham konglomerat Indonesia yang pernah atau sedang masuk MSCI:
🔹 Grup Prajogo Pangestu
- BREN – MSCI Indonesia (kapitalisasi besar, likuiditas tinggi)
- TPIA – Pernah masuk MSCI Indonesia
🔹 Grup Djarum (Hartono)
- BBCA – MSCI Indonesia & MSCI EM
🔹 Grup Astra
- ASII – MSCI Indonesia
- UNTR – MSCI Indonesia (periodik)
🔹 Grup Salim
- ICBP – MSCI Indonesia
- INDF – MSCI Indonesia (periodik)
🔹 Grup Sinarmas
- INKP – MSCI Indonesia (periodik)
🔹 Grup Adaro
- ADRO – MSCI Indonesia
⚠️ Catatan: Komposisi MSCI dapat berubah setiap kuartal (Februari, Mei, Agustus, November) tergantung free float, likuiditas, dan market cap.
Kenapa Saham MSCI Sangat Diperhatikan?
- Aliran dana asing otomatis (passive inflow)
- Likuiditas meningkat signifikan
- Volatilitas jangka pendek saat rebalancing
- Sering menjadi target bandar & institusi
Kesimpulan
Konglomerat Indonesia memegang peranan besar dalam pergerakan IHSG. Investor yang memahami peta grup usaha dan saham-sahamnya akan lebih siap membaca arah pasar, baik untuk investasi jangka panjang maupun trading jangka pendek.

Leave a Reply